Kuliah KI4211 Kimia dan Masyarakat: “Menjelajahi Peluang Karier Kimiawan di Sektor Energi Terbarukan bersama Wahyu Firmansyah, S.Si., M.Si, Senior Specialist PT Pertamina (Persero)”

Kuliah KI4211 Kimia dan Masyarakat: “Menjelajahi Peluang Karier Kimiawan di Sektor Energi Terbarukan bersama Wahyu Firmansyah, S.Si., M.Si, Senior Specialist PT Pertamina (Persero)”

Bapak Wahyu Firmansyah, S.Si., M.Si merupakan seorang profesional yang bekerja di bidang energi, khususnya pada sektor inovasi teknologi dan energi rendah karbon di PT Pertamina (Persero). Saat ini beliau menjabat sebagai Senior Specialist Technology Innovation Upstream & Low Carbon di PT Pertamina (Persero). Latar belakang pendidikan pembicara berasal dari bidang kimia yang memberikan fondasi kuat dalam memahami proses kimia yang terlibat dalam industri energi dan pengembangan teknologi dengan riwayat pendidikan pembicara dimulai dari Sarjana Kimia di Institut Teknologi Bandung (2001–2006). Setelah itu, beliau melanjutkan studi Magister Material Science di Universitas Indonesia (2007–2009). Saat ini pembicara juga sedang menempuh program doktor (S3) Kimia di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya sejak tahun 2024.

Pengalaman kerja pembicara cukup beragam dan dimulai sejak tahun 2006 sebagai Junior Chemist di Dexa Laboratories & Biomolecular Sciences. Kemudian beliau bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Fisika Material LIPI (sekarang BRIN) pada tahun 2007–2010. Selanjutnya pembicara bekerja sebagai Chemist di KAO Chemical Indonesia sebelum akhirnya bergabung dengan sektor energi. Pada tahun 2012 hingga 2020 pembicara bekerja sebagai Junior hingga Senior Geochemist di PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Setelah itu beliau menjabat sebagai Assistant Manager Laboratory di PT PGE area Ulubelu pada periode 2020–2022. Sejak tahun 2022 hingga sekarang, pembicara berperan sebagai Senior Specialist Technology Innovation Upstream & Low Carbon di PT Pertamina (Persero). Selain aktif dalam dunia profesional, pembicara juga tergabung dalam beberapa organisasi seperti Indonesia Geothermal Association, Indonesia Petroleum Association, dan Indonesia Chemical Society.

Dalam kuliah ini, pembicara membahas peran inovasi teknologi dalam industri energi, khususnya yang berkaitan dengan strategi transisi menuju energi rendah karbon serta pemanfaatan energi panas bumi (geotermal). Pembahasan dimulai dengan pengenalan mengenai peran strategis PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan energi milik negara yang memiliki tanggung jawab besar dalam pengelolaan energi nasional. Pertamina memiliki visi untuk menjadi perusahaan energi yang mengutamakan ketahanan energi, ketersediaan energi, dan keberlanjutan energi. Dalam mencapai visi tersebut, Pertamina mengembangkan berbagai strategi yang mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.

Salah satu strategi utama Pertamina adalah mendorong kemandirian energi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada impor energi, meningkatkan produksi minyak dan gas, serta membangun infrastruktur energi domestik seperti kilang minyak dan jaringan distribusi gas. Selain itu, Pertamina juga berperan dalam pengembangan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah produk energi dan petrokimia di dalam negeri. Pembicara juga menjelaskan mengenai konsep green economy atau ekonomi hijau yang menjadi salah satu fokus pengembangan energi di masa depan. Dalam konteks ini, Pertamina berupaya mengembangkan berbagai teknologi energi yang lebih ramah lingkungan, seperti biofuel (biodiesel, bioavtur, dan bioetanol), energi panas bumi, energi surya, serta teknologi hidrogen rendah karbon. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon seperti Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) dan Carbon Capture Storage (CCS).

Salah satu topik utama yang dibahas dalam kuliah ini adalah pengembangan energi panas bumi (geotermal). Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar karena berada di wilayah cincin api dunia (Ring of Fire). Oleh karena itu, pengembangan energi geotermal menjadi salah satu solusi penting untuk menyediakan energi yang berkelanjutan dan rendah emisi karbon. Pembicara menjelaskan bahwa dalam industri geotermal, ilmu kimia memiliki peran penting, terutama dalam bidang geokimia. Geokimia digunakan untuk memahami sistem reservoir panas bumi, memantau kualitas fluida geotermal, serta mengoptimalkan produksi energi dari sumber panas bumi. Selain itu, teknik seperti Tracer Flow Test (TFT) digunakan untuk mempelajari aliran fluida dalam reservoir geotermal. Penelitian yang dilakukan pembicara juga mencakup berbagai topik seperti pemodelan data geosains pada sistem geotermal, monitoring manifestasi permukaan, hingga pemantauan kualitas uap dalam operasi pembangkit listrik panas bumi. Bahkan terdapat peluang untuk melakukan ekstraksi mineral dari brine geotermal, yang dapat memberikan nilai ekonomi tambahan dari sumber daya panas bumi.

Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa mendapatkan wawasan baru mengenai bagaimana ilmu kimia dapat diterapkan secara nyata dalam industri energi, khususnya pada sektor geotermal dan inovasi teknologi rendah karbon. Kuliah ini membuka pemahaman bahwa lulusan kimia tidak hanya terbatas pada bidang laboratorium atau penelitian akademik, tetapi juga memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam industri energi dan pengembangan teknologi berkelanjutan. Selain itu, penjelasan mengenai strategi Pertamina dalam mendukung transisi energi memberikan gambaran yang jelas mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi Indonesia dalam mencapai ketahanan energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Mahasiswa dapat lebih memahami bahwa pengembangan energi terbarukan seperti geotermal memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ilmu kimia, geologi, teknik, dan teknologi. Pengalaman karier pembicara juga memberikan inspirasi bahwa perjalanan karier tidak selalu linear, tetapi dapat berkembang melalui berbagai pengalaman di bidang penelitian, industri, hingga manajemen teknologi. Hal ini memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan akademik maupun keterampilan praktis agar dapat berkontribusi dalam pengembangan energi yang berkelanjutan di masa depan. (Faiha Hanifah (10523025))